Cuma sebuah celotehan yang mewarnai garis kehidupan

Rabu, 29 Juni 2011

"Sebuah BATU" (02)

Batu yang mulai menikmati keberadaannya sebagai bagian dari rumah, tidak pernah menyangka bahwa suatu saat dia harus berpisah dengan rumah itu. Suatu ketika, datanglah air bah yang menyeret batu itu dan membuatnya terdampar di tepi sebuah sungai. Batu merasa sedih dan dia merasa kesepian. Batu itu terus dan terus menunggu seseorang untuk mau memungutnya, menjadikan dia bagian dari sebuah bangunan, agar dia berguna. Setelah sekian lama menunggu, dia merasa lelah. Udara di tepi sungai itu terlalu dingin, aliran arusnya terlalu deras. Tidak ada seorang pun yang melihatnya apalagi sudi untuk memungutnya, dia merasa diatas permukaannya bahkan sekarang sudah ditumbuhi oleh lumut, aliran arus yang deras membuatnya merasa takut kalau-kalau dia akan ikut hanyut dan terbawa arus. Namun, yang bisa dia lakukan sekarang adalah menunggu dan senantiasa berdo'a kepada Sang Pencipta agar datang seseorang yang bersedia memungutnya dan menjadikannya bagian dari bangunan, agar dia menjadi berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar